Did You know !

Rabu, 14 Juli 2010

" Jilbab Telah Menyelamatkan Saya"(Kisah Nyata Mantan Penyiar TVRI)

Kisah Nyata Eka Triyatna Shanty

Terkadang sebagian orang tidak menyadari apa yang ia benci boleh jadi merupakan sesuatu yang terbaik untuk dirinya. Ini terjadi pada presenter terkemuka Eka Shanty. Sempat menyatakan ketidaksukaannya kepada jilbab, malah berbalik kemudian hari merasa hidupnya terselamatkan oleh jilbab. "Aku penyiar berita, mustahil aku pakai jilbab! HARI GENE PAKAI JILBAB..." selorohnya. Kalimat ini diucapkan Eka di sebuah klub malam saat mengadakan farewell party bersama relasi dan rekan-rekan persis tiga hari sebelum berangkat umroh.

Saat itu Eka memang tidak menyukai jilbab. Bahkan sering meledek amit-amit khawatir dirinya akan berjilbab. Kehidupan Eka kah itu memang tergolong kelabu (Jika bukan gelap). Hedonis, gila belanja, percaya akan ramalan-ramalan dan berpenampilan seksi. Itulah gambaran pada diri Eka Shanty waktu itu. Jam terbang tinggi sebagai penyiar TVRI, MC dan moderator di berbagai seminar otomatis melambungkan karirnya.
Tak ayal lagi kepopuleran dan limpahan materi diperoleh perempuan kelahiran Banjarmasin 15 Maret 1973 ini. Eka terbiasa 'nongkrong' di cafe-cafe dan klub malam seusai lelah bekerja. Eka memang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol tinggi. Wine (anggur) adalah menu pilihannya di tempat itu.
Untuk urusan belanja, Eka bisa menghabiskan puluhan juta untuk satu kali belanja di sebuah mal. Eka selalu memilih merek-merek terkenal untuk kosmetik, pakaian, tas dan aksesoris lainnya. Eka berdalih semua ini demi kesuksesan penampilannya sebagai presenter.

Sirnanya Pelangi Remaja

Uniknya saat remaja sebenarnya Eka tidak demikian. la tak ubahnya seperti remaja daerah yang hidup penuh ke¬sederhanaan. Karenanya, kemandirian Eka sudah terbentuk sejak dini. Suatu ketika Eka menginginkan T-shirt keren bermerek Benetton yang hanya bisa dibeli di Jakarta. Namun mustahil bagi Eka untuk merengek kepada orangtuanya. Ayahnya hanya seorang PNS biasa. Karena itu, Eka me¬mantapkan diri untuk mencari uang sendiri demi kaos keren tersebut. Datanglah ia ke sebuah stasiun radio FM satu-satunya di Banjarmasin kala itu. Eka melamar sebagai penyiar freelance. Awalnya ditolak dengan alasan masih sekolah, tapi begitu mendengar suara dan kemampuannya membawakan acara, akhirnya pihak manajemen me¬ngijinkannya mengudara dengan nama Eka Armain. Ini dilakukannya rutin sepulang sekolah.
Lama kelamaan Eka malah keasyikan dengan dunia kerja. Meski kaos telah diperoleh, Eka tetap melanjutkan 'accident job' ini. Di waktu Luang Eka pun masih menyempatkan diri untuk bekerja sebagai guru privat. Ditambah lagi kegiatan-kegiatan organisasi dan sosial. Eka telah menjelma menjadi gadis yang mandiri dan mencintai kerja, setidaknya sampai ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat.
Di usia 23 tahun Eka dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang anak pengusaha. Eka sempat menolak, "Saat itu saya masih muda dan masih kuliah. kenang putri dari Bapak Armain ini. Namun bujukan dan "paksaan" orangtua membuatnya mengalah.

Malangnya, sesudah menikah, Eka malah memasuki episode kelam dalam hidupnya. Sang suami terbiasa hidup dalam kemanjaan harta orangtuanya yang berlimpah. Itu yang membawanya menjadi pecandu narkoba. Tragisnya, Eka kemudian dilarang bekerja. Padahal karirnya sebagai penyiar terbilang sukses. Anehnya Eka tidak diberi nafkah sebagaimana seorang istri pada umumnya. Uang yang adal ebih banyak digunakan sang suami untuk membeli narkoba.

Eka memberanikan diri untuk meminta biaya hidup kepada orang tuanya. Kondisinya kala itu sedang hamil. Sang ibu trenyuh melihat kondisi Eka. Anak perempuan yang terbiasa hidup mandiri sejak SMA kini hidupnya sengsara. Orangtua Eka merasa bersalah telah menjodohkan putrinya tersebut. Mereka akhirnya menyetujui keinginan Eka untuk bercerai dengan sang suami. Jadilah Eka bercerai dengan sang suami padahal kondisinya saat itu sedang mengandung. Dalam hati Eka berpesan kepada anaknya yang masih dalam kandungan, "Nak, saat kamu lahir kelak tidak akan ada ayah yang menyambut. Jadi bersiaplah untuk hidup sendiri," ucapnya.
Sampai hari ini Aza Permata Mayzura belum pernah melihat ayahnya. Putri Eka yang lahir 17 Mei 1997 tersebut hanya mengetahui sosok ayah dari foto dan mendengar kisah ayahnya dari sang ibu. Sang ayah sendiri telah meninggal dunia beberapa waktu setelah perceraian.
Beberapa bulan setelah melahirkan Eka memutuskan untuk bekerja kembali demi memenuhi kebutuhan hidup anaknya. Eka kemudian bekerja di sebuah wartel dengan upah sebesar 100 ribu rupiah per bulan. Eka menjalani fase kehidupan yang sulit.

Suatu ketika Eka bertemu. dengan Bapak Fachri Muhammad, pemilik SMART FM Jakarta di sebuah toko roti. Eka mengenal sosok tersebut dari artikel yang memuat profilnya.
"Saya Eka Armain, Pak," jawab Eka saat ditanya siapa diri¬nya. Fachri Muhammad seakan menemukan orang yang selama ini dicarinya untuk membangun SMART FM di Banjarmasin. Besoknya Eka menghadap, Fachri di kantornya untuk menerima pekerjaan sebagai penyiar sekaligus station manager.
Kehidupan Eka lambat laun pulih. Kesulitan ekonomi sedikit demi sedikit sirna. Eka pun sempat berbisnis batubara, sampai kemudian bisnis ini "booming" padA akhir 90-an. Namun, fitnah mendera. Limpahan uang yang selama ini diperolehnya secara mandiri dipertanyakan orang banyak, khususnya paratetangga. "Uang dari mana sebanyak itu? Istri muda siapa ya?" ujar Eka menirukan sejumlah kalimat yang sampai ke telinganya. Apalagi Eka sering pulang-pergi Jakarta-Banjarmasin untuk mengurus SMART FM.

Kemudian datanglah tawaran untuk berkarir di Jakarta dari TVRI. Meski harus melalui audisi dan seleksi yang cukup ketat, Eka berhasil lolos dan terpilih di antara 14 orang dari 400 orang pelamar. Akhirnya Eka berkarir di TVRI Jakarta. Ia lalui semuanya dengan sabar dan tekun. Untuk tugas¬-tugas wawancara Eka berusaha semaksimal mungkin mencari data lengkap dari berbagai sumber. Meskipun tidak ada budget untuk itu. Eka pun rela mengambil tugas malam yang tidak dihitung lembur sekalipun. Eka sangat menikmati pekerjaan sebagai jurnalis dan penyiar. Ia bisa bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh ternama di negeri ini.
Selain itu, Eka pun berhasil memperoleh beasiswa S2 dari Universitas Indonesia. Beasiswa tersebut dipersembahkan UI (khususnya Jurusan Ekonomi Manajemen yang diketuai oleh DR Rhenald Kasali) untuk pada jurnalis.

Dipaksa Allah Menuju Hidayah-Nya

Suatu ketika Eka bertemu dengan Ary Ginanjar penggagas ESQ. Seusai wawancara Ary Ginanjar mengajaknya ikut training ESQ. "Maaf pak, saya gak punya uang. Mahal pak," jawab Eka sekenanya. Hingga suatu malam Eka mendapat sms yang menyatakan dirinya sudah terdaftar sebagai peserta training ESQ atas nama sekretaris Wapres. Memang sebelumnya bapak Gunawan Sumodiningrat, sekretaris Wakil Presiden sempat menawarkan Eka untuk mengikuti training tersebut secara gratis. Namun dalam hati, Eka sebenarnya tidak berminat. Salah satunya karena hari pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal kuliahnya.

Allah kemudian memainkan peran-Nya. Entah apa sebab¬nya, kuliah hari itu dibatalkan. Otomatis Eka mau tak mau mengikuti training ESQ tersebut. Eka datang dengan pakaian yang terbilang lumayan seksi dibanding peserta lain yang kebanyakan memakai kerudung dan berjilbab.

Melalui training itulah Eka disadarkan akan kekuasan dan kebesaran Allah. Eka tersungkur penuh penyesalan. Cucuran air mata tidak tertahankan. la merasa dirinya telah dipenuhi kesalahan dan kemunafikan. Eka merasa menjalani kewajiban keislaman seadanya, seperlunya dan semaunya. Bahkan seringkah berbicara dan berlaku sok alim di depan anaknya. Padahal kenyataannya is sering meninggalkan shalat.

Allah pula yang menegur Eka dengan cara-Nya sendiri. Eka mendapat azab kecil kiriman Yang Maha Kuasa. Suara yang hilang, jerawat besar tumbuh di wajah, dan tubuhnya lemah tidak bisa digerakkan. Eka teringat akan apa yang pernah diucapkannya di masa lalu. "Selama ini saat orang memuji suaraku yang lembut, aku bilang karena minum air putih. Ketika orang memuji kulitku yang lembut, oh, itu karena kosmetik mahal yang kupakai. Ketika orang memuji kekuatanku bekerja. Aku bilang karena vitamin yang membantuku," papar Eka sambil menguraikan air mata.
"Padahal sesungguhnya yang Maha Lembut dan Cantik adalah Al-Latief. Yang Maha Kuat adalah Al-Qowwy," lanjut Eka dengan butiran air menggumpal di ujung matanya. Sejak saat itu Eka tidak ingin meninggalkan shalat selamanya. "Semoga istiqomah," begitu doa Ary Ginanjar kepadanya.


Saat rombongan ESQ berangkat umroh ke tanah Suci. Eka ikut mendaftarkan diri. "Ternyata biayanya hanya sekitar 14 juta. Padahal dengan uang sejumlah itu dahulu saya terbiasa menghabiskannya dalam sekejap," sesalnya. Di tanah suci Eka mendapat sejumlah pelajaran berarti. Salah satunya saat tawaf di Ka'bah, Eka terpisah dari rombongan. Putaran tawaf membawanya mendekat ke Hajar Aswad.

Saat mencium batu hitam tersebut, kepalanya seakan ada yang me¬nahan. Bibir Eka lecet dan sempat mengeluarkan darah akibat bergesekan dengan batu tersebut. Eka diliputi ketakutan. "Laa ilaha ilallah…!!!” teriaknya spontan. Dalam benak Eka kemudian Nadir episode dalam hidupnya. Kala ia lebih banyak meng-ilah-kan (baca: menuhankan) selain Allah. Ia teringat, saat di Banjarmain sebelum berangkat ke Jakarta, selalu mengecek keberuntungannya ke ahli ramal lewat kartu tarot. Ia merasa tergolongkan musyrik dengan mempercayai itu semua. Ia pun langsung bertaubat sampai terdengar teriakan, "Hajjah ... Hajjah ... cukup, cukup!" seorang askar (polisi Arab) menariknya dari Hajar Aswad. Sekali lagi Eka mendapat teguran manis dari Allah SWT.

Sepulang dari umroh Eka merasa risih jika melepaskan jilbabnya. Semua aktivitas dijalani dengan jilbab kecuali siaran di televisi. Eka terpaksa harus melepaskan jilbab. "Kalau kamu siaran, saya tidak kenal kamu habis tidak pakai jilbab," ujar Eka menirukan ucapan Oke Hatta Rajasa, istri Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa.

Eka lambat laun mulai merasakan Allah sedang mengganti teman-teman di sekitarnya. Terutama mereka yang tidak menyukai jilbab. Eka memasuki komunitas jilbab yang setia mendukungnya. Beberapa artis berusaha memantapkan dirinya agar teguh dalam berjilbab, semisal Ratih Sanggarwati, Ineke Koesherawati, Cheche Kirani dan Baby Zilvia. "Dimantapkan saja! Insya Allah rejeki Allah yang mengatur," begitu ucapan mereka.

Awalnya Eka tidak begitu yakin. Apalagi ia seorang single parent. Di sisi lain, Eka kehilangan sosok calon suami karena tidak setuju tatkala Eka memutuskan berjilbab. Tapi Eka tidak bergeming. Tekadnya bulat untuk berhijrah. Eka menyampaikan niatnya untuk berjilbab kepada pihak TVRI. Keinginannya ditolak. Seorang penyiar harus netral. "Maka, saya memilih mundur," tegas Eka.

Dalam kegundahan hatinya kehilangan pekerjaan dan calon suami, Eka berbagi perasaannya kepada seorang teman yang dikenalnya saat umrah. "Sejak kapan kamu berjilbab?" sang teman bertanya heran. Awalnya saat bertemu di Jeddah Eka menyatakan tidak akan berjilbab karena terganjal profesi. Ternyata Krishna Utama, begitu nama sang teman tersebut, rupanya sedang mencari pendamping shalihah untuk mengakhiri status dudanya. Semula ayah dari M. Dion Hutama ini tidak tertarik dengan Eka karena tidak mengenakan jilbab. Namun, jalinan pertemanan yang berubah menjadi asmara telah mengantarkan kedua insan ini ke pelaminan.

Kini Eka Shanty menjadi managing partner di sebuah perusahaan public relation yang dibangun sang suami Krishna Utama, THE PARTNERS-CDP. Eka tidak sekedar menjadi penyiar atau presenter. Ia pun memproduseri program program Islami di beberapa TV swasta. Salah satunya 'Sakinah' dan 'Ramadhan on Wheels'. Tidak ketinggalan tawaran untuk menjadi MC dan moderator terus mengalir.

"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak.... "(QS: An Nisaa:100)

Eka Shanty bersyukur kepada Allah SWT - yang telah "menyelamatkan" hidupnya melalui sesuatu yang dahulu dibencinya ... JILBAB..

‘Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ [Qs. al-Ahzab : 59].


(Sumber:Bismillah aku berjilbab)

Saudaraku..
Semoga kita bisa mengambil ibrohnya..
Terimalah perintah Allah ini..
Sehingga tidak ada lagi alasan karena panas,takut kehilangan rezeki..
Atau yang penting hatinya dijilbab..
Dan berbagai alasan lainnya.
Kisah nyata ini telah membuktikan..
Dia tidak kehilangan rezeki,walaupun harus keluar dari tempat kerjanya..
Malah dia mendapatkan rezeki yang lebih banyak dari sebelumnya dan mendapatkan jodoh seorang suami.
Subhanallah..

Bagi Saudaraku yang belum menikah..
Siapa tahu Allah menundamu mendapatkan pasangan, agar kamu menutup auratmu..
Allah Menunda dulu,agar kamu bertambah dekat dengan Allah dengan berjilbab..
Ya Bukankah Allah Maha Mengatur Segala Sesuatunya Saudaraku..?

Bagi Saudaraku yang sudah menikah..
Cukuplah Suami yang berhak melihat Auratmu.
Cobalah kita renungkan diri kita sendiri..
Sungguh akan bertambah cantik dan bertambah kehormatan seorang ibu.
Jika Ia memakai Jilbab dan memberi contoh teladan yang baik bagi suami dan anak-anaknya.
Wahai Para Suami.
Bimbinglah istri kita dengan kesabaran dan tawakal kepada Allah SWT
Karena nanti yang ditanya Allah tidak hanya seorang Istri.
Tapi juga Suaminya.
Ya..Suami akan ditanya mengapa istrinya tidak berjilbab..
Karena Lelaki adalah Pemimpin bagi Keluarganya
Dan akan bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.

Semoga Allah selalu memudahkan urusan kita dan selalu memberi taufik dan hidayah-Nya..Amiin ya Rabbal a'lamiin


“..Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.(Ath-Thalaaq:4)

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang amir atas manusia, merupakan pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita juga merupakan pemimpin atas rumah keluarganya dan juga anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya." (HR. Muslim)

5 komentar:

  1. sangadt menyentuuh tuu criita. . . :))

    BalasHapus
  2. bagus cerita nyatanya, sebaiknya wanita terutama yang remaja harus demikian apalagi pergaulan sekarang amat bebas

    BalasHapus
  3. Subuhanallah... numpang Share

    BalasHapus
  4. Cerita nya bagus... Semoga ini kisah nyata yg penuh kebenaran bukan sekedar cerita berbumbu... Semoga wanita tdk mengenakan jilbab krn trend, menutupi bentuk tubuh yg kurang menarik atau demi mendapatkan tujuan2 tertentu yg bersifat duniawi. Selaraskan perkataan, pikiran dan perbuatan dg makna dlm berjilbab. Jangan berjilbab tp msh suka iri hati, ngga bs menjaga kehormatannya, berkata dusta, berbuat apa saja utk mendptkan keinginannya... Semoga kisah Eka ini akan membawa kebaikkan dan kesejukkan bagi sesama.

    BalasHapus